BAURAN PEMASARAN (MARKETING MIX)
Pengertian Bauran Pemasaran
Philip Kotler dan Geri
Amstrong (2001 : 23) tentang bauran
pemasaran adalah: saluran pemasaran dapat
dipandangan sebagai sistem penyerahan nilai pelanggan dimana masing-masing
anggota saluran menambah nilai bagi pelanggan.
Oleh karena itu
mendesain saluran distribusi dengan menemukan nilai apa yang diinginkan oleh
berbagai segmen sasaran dari saluran distribusi. Salah satu strategi utama
dalam menentukan keberhasilan mencapai tujuan kegiatan pemasaran perusahaan
adalah penentuan marketing mixnya.
Penentuan ini secara lansung berhubungan dengan langkah operasi perusahaan
didalam pelaksanaan kegiatan berhubungan dengan langkah operasi. Sehingga
apabila marketing mix yang ditetapkan perusahaan tersebut
akan mengalami kegagalan dalam nencapai tujuan operasinya.
Untuk lebih jelasnya,
berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian marketing mix.
Marketing menurut Drs. Siswanti Sutojo (1993 : 13) adalah
Bermacam kebijaksanaan pemasaran yang digunakan untuk mencapai pembeli sasaran secara ringkas dapat digolongkan menjadi 4 yaitu kebijaksanaan:
1. Produk
2. Harga
3. Distribusi
4. Promosi
Komponen Marketing Mix
Marketing menurut Drs. Siswanti Sutojo (1993 : 13) adalah
Bermacam kebijaksanaan pemasaran yang digunakan untuk mencapai pembeli sasaran secara ringkas dapat digolongkan menjadi 4 yaitu kebijaksanaan:
1. Produk
2. Harga
3. Distribusi
4. Promosi
Komponen Marketing Mix
1. Produk (Product)
Produk secara singkat
menurut Philip Kotler “Dasar-dasar Pemasaran” (1989:89) dapat didefinisikan
sebagai berikut:
“Produk
adalah apa yang diapat ditawarkan daidalam pasar untuk dipertahankan, dimiliki,
digunakan atau dikonsumsi sehingga dapat memusaskan keinginan atau kebutuhan
termasuk didalam adalah objek fisik, jasa, orang, tempat organisasi dan gagasan.”
Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud produk adalah suatu yang berwujud maupun sesuatu yang tidak berwujud yang lazim disebut jasa. Dari definisi diatas terkandung tiga makna yang perlu dibedakan:
1. Produk ini yang merupakan manfaat yang dicari oleh pembeli.
2. Produk formal yaitu obyek fisik yang ditawarkan seperti : kemasan, merek, mutu
3. Produk yang disempurnakan yaitu mencakup keseluruhan manfaat yang diberikan
Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud produk adalah suatu yang berwujud maupun sesuatu yang tidak berwujud yang lazim disebut jasa. Dari definisi diatas terkandung tiga makna yang perlu dibedakan:
1. Produk ini yang merupakan manfaat yang dicari oleh pembeli.
2. Produk formal yaitu obyek fisik yang ditawarkan seperti : kemasan, merek, mutu
3. Produk yang disempurnakan yaitu mencakup keseluruhan manfaat yang diberikan
oleh produk formal.
Dari ketiga makna
produk, menumbulkan gagasan bagi pemasar selalu mempertimbangkan konsumsi
konsumen yaitu bagaimana cara seseorang membeli, bukan semata-mata dipengaruhi
oleh manfaat yang dicari, melainkan dipengaruhi oleh faktor –faktor lain yang
menyertai barang yang bersangkutan.
Maka dari itu produk digolongkan menjadi:
1. Penggolongan menurut tujuan pemakainya
a. Barang konsumsi
Barang konsumsi yaitu barang-barang yang dibeli untuk dikonsumsikan, jadi barang ini untuk dikonsumsikan sendiri dan tidak digunakan untuk proses produksi. Barang konsumsi dapat dibedakan menjadi:
- Barang konvenien, yaitu barang yang mudah dipakai pembeliannya dapat disembarang tempat dan pada setiap waktu.
- Barang shopping, adalah barang yang harus dibeli dengan mencari terlebih dahulu dan didalam pembeliannya harus dipertimbangkan secara matang.
- Barang special adalah barang yang mempynyai ciri khas dan hanya dapat dibeli ditempat tertentu saja, untuk memperolehnya konsumen harus mengeluarkan pengorbanan yang sangat besar
b. Barang industri
Adalah yang dibeli untuk menghasilkan barang lain atau untuk menyelenggarakan suatu usaha.
Maka dari itu produk digolongkan menjadi:
1. Penggolongan menurut tujuan pemakainya
a. Barang konsumsi
Barang konsumsi yaitu barang-barang yang dibeli untuk dikonsumsikan, jadi barang ini untuk dikonsumsikan sendiri dan tidak digunakan untuk proses produksi. Barang konsumsi dapat dibedakan menjadi:
- Barang konvenien, yaitu barang yang mudah dipakai pembeliannya dapat disembarang tempat dan pada setiap waktu.
- Barang shopping, adalah barang yang harus dibeli dengan mencari terlebih dahulu dan didalam pembeliannya harus dipertimbangkan secara matang.
- Barang special adalah barang yang mempynyai ciri khas dan hanya dapat dibeli ditempat tertentu saja, untuk memperolehnya konsumen harus mengeluarkan pengorbanan yang sangat besar
b. Barang industri
Adalah yang dibeli untuk menghasilkan barang lain atau untuk menyelenggarakan suatu usaha.
2. Penggolongan menurut tingkat konsumsi dan konkret tidaknya suatu barang
a. Barang tahan lama
Adalah barang konkret yang dapat digunakan dalam jangka waktu tertentu
b. Barang tidak tahan lama
Adalah barang konkret yang habis dikonsumsikan setelah digunakan sekali atau beberapa kali
c. Jasa
Adalah kegiatan, kegunaan atau kepuasan yang dijual berdasarkan.
a. Barang tahan lama
Adalah barang konkret yang dapat digunakan dalam jangka waktu tertentu
b. Barang tidak tahan lama
Adalah barang konkret yang habis dikonsumsikan setelah digunakan sekali atau beberapa kali
c. Jasa
Adalah kegiatan, kegunaan atau kepuasan yang dijual berdasarkan.
2.
Kebijakan Harga (Price)
Dalam penetapan harga
jual, perusahaan harus memperhatikan berbagai pihak antara lain para konsumen
akhir, para penyalur, saingan, para suplier, bahan, dana, tenaga kerja dan para
manager perusahaan yang bersangkutan.
Segala keputusan yang
berhubungan dengan harga akan sangat mempengaruhi beberapa aspek kegiatan
perusahaan, baik menyangkut kegiatan penjualan maupun aspek keuntungan yang mau
dicapai oleh perusahaan.
Dengan demikian semua keputusan
yang berkaitan dengan harga hendaknya harus dipertimbangkan secara
sungguh-sungguh dan mendalam serta memperhatikan aspek intern dan ekstern
perusahaan.
Marius P Angipora (1998
: 186)
mendefinisikan kebijakan harga sebagai berikut:
Tuntutan atau pedoman managerial yang akan diperlukan untuk membuat keputusan-keputusan dimasa yang akan datang bila mana situasi menuntutnya.
Tuntutan atau pedoman managerial yang akan diperlukan untuk membuat keputusan-keputusan dimasa yang akan datang bila mana situasi menuntutnya.
Dengan demikian sebuah
kebijakan dapat menjadi suatu tindakan konkrit yang secara rutin diikuti bila
mana sebuah situasi taktis atau strategis tertentu menuntutnya. Apabila produk
dipresepsikan berkualitas tinggi dan manfaatnya dianggap banyak, maka harga
akan dinilai murah. Tetapi apabila presepsi konsumen terhadap kualitas rendah
dan manfaatnya dianggap kurang, maka harga umumnya dianggap mahal, dengan dasar
pemikiran yang demikian.
Harga bisa juga
didefinisikan suatu takaran perbandingan antara pengorbanan dan manfaat dalam
pikiran (asumsi konsumen). Untuk mencapai keunggulan dalam harga, menurut
Michael Treacy, diperlukan keunggulan operasional
(operational exelence) dengan keunggulan operasional akan memberikan perpaduan
kualitas, harga dan kemudahan dalam membeli (Michael Treacy &
Fred Wiessema, Op Cit 22). Dengan keunggulan dalam pelaksanaan operasi
perusahaan, maka perushaan akan dapat menekan biaya produksi. Dengan demikian
harga jual dapa ditekan lebih rendah lagi.
Namun presepsi konsumen
tidak secara mutlak mampu membuat konsumen mengabaikan harga. Sebab konsumen
pada umumnya memiliki suatu acuan dalam menilai harga. Acuan atau dasar yang
sering dijadikan konsumen dalam menilai harga adalah:
a. Harga produk lain.
b. Perubahan waktu pembelian
c. Lingkungan pembelian
a. Harga produk lain.
b. Perubahan waktu pembelian
c. Lingkungan pembelian
Selain hal penetapkan
harga diatas, Perusahaan juga dapat menggunakan cara dengan
melakukan pendekatan penetapan harga secara umum yang meliputi satu atau
lebih diantara tiga perangkat perimbangan berikut ini yakni:
1. Cost-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan biaya)
(a) Cost-Plus-Pricing (Penetapan harga biaya plus)
Metode ini merupakan metode penelitian harga yang paling sederhana, dimana metode ini menambah standar mark-up terhadap biaya produk.
(b) Break Even Analysis and Target Profit Pricing (Analisis peluang pokok dan penetapan harga laba sasaran).
Suatu metode yang digunakan perusahaan untuk menetapkan harga apakah akan break even atau membuat target laba yang akan dicari.
2. Value-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan nilai)
Metode ini menggunakan satu persepsi nilai dari pembeli (bukan dari biaya penjualan) untuk menetapkan suatu harga.
3. Competition-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan persaingan)
(a) Going-rate Pricing (Penetapan harga berdasarkan harga yang berlaku)
Perusahaan mendasarkan harganya pada harga pesaing dan kurang memperhatikan biaya dan permintaannya. Perusahaan dapat mengenakan harga yang sama, lebih tinggi atau lebih rendah dan pesaing utamanya.
(b) Scaled-Bid Pricing (Penetapan harga penawaran tertutup)
Perusahaan menetapkan pesaing dan bukan berdasarkan hubungan yang kaku atas biaya atau permintaan perusahaan.
1. Cost-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan biaya)
(a) Cost-Plus-Pricing (Penetapan harga biaya plus)
Metode ini merupakan metode penelitian harga yang paling sederhana, dimana metode ini menambah standar mark-up terhadap biaya produk.
(b) Break Even Analysis and Target Profit Pricing (Analisis peluang pokok dan penetapan harga laba sasaran).
Suatu metode yang digunakan perusahaan untuk menetapkan harga apakah akan break even atau membuat target laba yang akan dicari.
2. Value-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan nilai)
Metode ini menggunakan satu persepsi nilai dari pembeli (bukan dari biaya penjualan) untuk menetapkan suatu harga.
3. Competition-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan persaingan)
(a) Going-rate Pricing (Penetapan harga berdasarkan harga yang berlaku)
Perusahaan mendasarkan harganya pada harga pesaing dan kurang memperhatikan biaya dan permintaannya. Perusahaan dapat mengenakan harga yang sama, lebih tinggi atau lebih rendah dan pesaing utamanya.
(b) Scaled-Bid Pricing (Penetapan harga penawaran tertutup)
Perusahaan menetapkan pesaing dan bukan berdasarkan hubungan yang kaku atas biaya atau permintaan perusahaan.
3.
Distribusi (Place)
Setelah barang selesai
dibuat dan siap untuk dipasarkan, tahap berikutnya dalam proses pemasaran
adalah menentukan metode dan rute yang akan dipakai untuk menyalurkan barang
tersebut kepasar. Hal ini menyangkut strategi penyaluran dan termasuk didalam
pemiilihan penyaluran distribusi.
Secara singkat saluran
distribusi menurut Drs. Basu Swasta (1990) tersebut dapat didefinisikan
sebagai saluran distribusi untuk suatu barang adalah:
“Saluran yang digunakan oleh produsen untuk menyalurkan barang tersebut dari produsen sampai ke konsumen atau pemakai industri”
Willian J. Stanto (1986 : 81) membagi gambaran umum mengenai saluran distribusi yang paling banyak digunakan untuk barang hasil produksi buat konsumen atau pemakai industri antara lain:
a. Distribusi barang-barang konsumen
1. ProdusenèKonsumen
Merupakan saluran distribusi paling pendek dan sederhana untuk arang konsumen tanpa campur tangan perantara
2. ProdusenèPengecerèKonsumen
Dalam saluran distribusi ini, perusahaan pengecer besar membeli lansung dari produsen industri
3. ProdusenèPedagang besarèPengecerèKonsumen
Disebut juga saluran tradisional karna beribu-ribu pengecer kecil dan produsen industri kecil menganggap saluran ini sebagai saluran paling ekonomis.
4. ProdusenèAgenèPengecerèKonsumen
Dari pada menggunakan pedagang pasar, produsen banyak menggunakan agen, makelar atau agen perantara lain untuk mencapai pasar eceran, khususnya perusahaan besar pengecer
5. ProdusenèAgenèPedagang besarèPengecerèKonsumen
Untuk dapat mencapai pengeceran kecil, produsen juga menggunakan perantara yang menghubungi pasar besar yang menjual kepada pengecer kecil.
b. Distribusi barang industri
1. ProdusenèPemakai Industri
Hubungan lansung ini menyalurkan produksi industri dengan nilai dolar lebih besar dibandingkan dengan saluran distribusi lain
2. ProdusenèDistributor IndustrièPemakai
Produsen peralatan assesoris kecil kerap kali memasuki pasaran mereka
3. ProdusenèAgenèPemakai
Perusahaan yang hendak memasarkan produk baru atau hendak memasuki pasaran baru lebih suka menggunakan agen dari pada tenaga penjual
4. ProdusenèAgenèDistributor IndustrièPemakai
Cara ini dipakai dalam keadan produsen tidak menjual maupun menjual lewat agen langsung kepada pemakai industri.
“Saluran yang digunakan oleh produsen untuk menyalurkan barang tersebut dari produsen sampai ke konsumen atau pemakai industri”
Willian J. Stanto (1986 : 81) membagi gambaran umum mengenai saluran distribusi yang paling banyak digunakan untuk barang hasil produksi buat konsumen atau pemakai industri antara lain:
a. Distribusi barang-barang konsumen
1. ProdusenèKonsumen
Merupakan saluran distribusi paling pendek dan sederhana untuk arang konsumen tanpa campur tangan perantara
2. ProdusenèPengecerèKonsumen
Dalam saluran distribusi ini, perusahaan pengecer besar membeli lansung dari produsen industri
3. ProdusenèPedagang besarèPengecerèKonsumen
Disebut juga saluran tradisional karna beribu-ribu pengecer kecil dan produsen industri kecil menganggap saluran ini sebagai saluran paling ekonomis.
4. ProdusenèAgenèPengecerèKonsumen
Dari pada menggunakan pedagang pasar, produsen banyak menggunakan agen, makelar atau agen perantara lain untuk mencapai pasar eceran, khususnya perusahaan besar pengecer
5. ProdusenèAgenèPedagang besarèPengecerèKonsumen
Untuk dapat mencapai pengeceran kecil, produsen juga menggunakan perantara yang menghubungi pasar besar yang menjual kepada pengecer kecil.
b. Distribusi barang industri
1. ProdusenèPemakai Industri
Hubungan lansung ini menyalurkan produksi industri dengan nilai dolar lebih besar dibandingkan dengan saluran distribusi lain
2. ProdusenèDistributor IndustrièPemakai
Produsen peralatan assesoris kecil kerap kali memasuki pasaran mereka
3. ProdusenèAgenèPemakai
Perusahaan yang hendak memasarkan produk baru atau hendak memasuki pasaran baru lebih suka menggunakan agen dari pada tenaga penjual
4. ProdusenèAgenèDistributor IndustrièPemakai
Cara ini dipakai dalam keadan produsen tidak menjual maupun menjual lewat agen langsung kepada pemakai industri.
4.
Promosi (Promotion)
Luas ruang lingkup
kegiatan promosi dipengaruhi oleh macam-macam kegiatan yang dipergunakan. Dan
kegiatan promosi dari perusahaan saingan merupakan faktor lain yang perlu
dipertimbangkan oleh perusahaan dalam memasarkan produknya.
Promosi menurut Basu
Swaswa Dh Op. Cit (273) adalah:
“Arus
informasi atau persuasi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau
organisai kepada tindakan untuk menciptakan pertukaran dalam pemasaran.”
Philip Kotler “Manajemen
Pemasaran Analisis” (1983 : 177) membagi kegiatan promosi kedalam beberapa
element, antara lain:
a.
Periklanan
Setiap penyajian yang
bukan dengan orang pribadi dan promosi, ide-ide, barang atau jasa dengan
pembayaran oleh suatu sponsor tertentu. Adapun fungsi-fungsi periklanan adalah sebagai
berikut:
- Memberikan informasi.
- Membujuk atau mempengaruhi
- Menciptakan kesan (image)
- Memuaskan keinginan
- Periklanan merupakan alat komunikasi
- Memberikan informasi.
- Membujuk atau mempengaruhi
- Menciptakan kesan (image)
- Memuaskan keinginan
- Periklanan merupakan alat komunikasi
b.
Penjualan pribadi (pesonal selling)
Penyajian yang secara
lisan dalam percakapan bersama calon pembeli dengan tujuan melaksanakan jual
beli.
Fungsi dari tenaga penjualan adalah:
- Mengadakan analisa pasar
- Menentukan komunikasi
- Memajukan langganan
- Memperhatikan langganan
- Mengatasi masalah
- Mengatur waktu
- Mengalokasi sumber-sumber
- Meningkatkan kemampuan diri
Fungsi dari tenaga penjualan adalah:
- Mengadakan analisa pasar
- Menentukan komunikasi
- Memajukan langganan
- Memperhatikan langganan
- Mengatasi masalah
- Mengatur waktu
- Mengalokasi sumber-sumber
- Meningkatkan kemampuan diri
c.
Promosi dagang
Rangsangan (stimulation) jangka pendek untuk mendorong jual beli suatu barang atau jasa.
- Pembelian contoh (product sampling)
- Kupon atau nota
- Hadiah
- Kupon berhadiah
- Undian
d. Publisitas
Rangsangan (stimulation) jangka pendek untuk mendorong jual beli suatu barang atau jasa.
- Pembelian contoh (product sampling)
- Kupon atau nota
- Hadiah
- Kupon berhadiah
- Undian
d. Publisitas
Penggairahan bukan pribadi
untuk meransang permintaan terhadap suatu barang atau jasa, atau suatu unit
niaga dengan menanam berita dengan sifat komersil dalam suatu media penerbitan
atau untuk memperoleh penyajian baik dalam siaran radio, TV, atau dipentas
tanpa lansung dibayar oleh seorang sponsor.
Sofyan Assauri memandang tentang sifat -
sifat yang terdapat pada publisitas dalam buku “Manajemen Pemasaran Dasar,
Konsep dan Strategi (260) adalah :1. Tingkat kebenaran atau kepercayaan yang tinggi
Pemberian publisitasyang diberikan pada masyarakat dianggap sebagai suatu yang benar atau lebih dipercaya daripada bila berita tersebut dikeluarkan dengan sponsor daripenjualan sebagai bertanya tidak memihak.
2. Mendramatisir
Sepersi advantasi, publisitas juga mempunyai kemampuan untuk menggambar produk atau jasa perusahaan dalam bentuk cerita yang jelas. Oleh karena itu perusahaan harus dapat berusaha mempengaruhi para konsumen untuk dapat menciptakan permintaan atau produknya, yang merupakan salah satu bauran pemasaran secara keseluruhan dan dikendalikan dengan baik akan dapat meningkatkan penjualan dan market share.















0 komentar:
Posting Komentar